2

Cari Tulisan

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Skandal Itu Apa Bunda?

“Skandalku dengan istri orang” demikianlah judul artikel di sebuah majalah wanita yang dibaca Hasyim, anak lelaki solehku berusia 7 tahun, majalah wanita itu terpampang dimeja ruang tunggu dokter gigi. Hari itu giliran hasyim kecilku memeriksa gigi berlubangnya yang membuatnya tidak bersahabat dengan susu coklat dan makanan manis apapun selama dua minggu ini, dan masa penungguan yang cukup melelahkan membuat Hasyim mencoba mencari aktivitas lain dan membaca topik-topik yang tertera di depan sebuah majalah wanita dewasa.

“Skandal itu apa ma? Dan mengapa skandal dengan istri orang? memang istrinya sendiri kemana?” Pertanyaan bertubi-tubi yang mengejutkan dari mulut Hasyim yang mengerucut lucu membuatku gemas untuk mencubit mulutnya.

Namun dengan marah, Hasyim menepis tanganku dan bertanya lagi, “apakah meramal itu, apa beda meramal dengan melamar?” Deg! dengan berpura-pura tersenyum dan menganggap remeh pertanyaannya itu, aku segera meraih majalah wanita dewasa yang ada dalam genggamannya, lalu aku berkata lembut : “Hasyim, bunda tahu kamu suka membaca, mana buku Hasyim yang tadi bunda bawakan? ini bukan untuk Hasyim, ini majalah untuk ibu-ibu seperti bunda.” Hasyim diam dan hanya mengatakan : “buku yang dibawa terlalu tipis bunda, dan sudah habis Hasyim baca,” lalu hasyim bertanya lagi, ”Kalau mama Laurens itu siapa bunda, apakah dia mampu meramal tahun 2020? Kok seperti film kiamat 2012 saja ya bunda..” pertanyaan berikut mulai menyerang lagi, dan semua itu tak mungkin tidak dijawab, dan menurut pemikiranku, bila pertanyaan pertama mengenai skandal, mama laurens dan ramalan mama laurens tentang kiamat 2012 tidak kujawab dengan tuntas, maka ada kemungkinan jawaban yang Hasyim kecilku cari akan didapatkannya dari sumber lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Akhirnya dengan sabar kujelaskan satu persatu mengenai skandal, skandal adalah sebuah peristiwa yang memalukan misalnya semestinya Hasyim mencintai bunda dan harusnya tinggal dengan bunda, namun ternyata Bunda malah membalas cinta Hasyim kepada anak-anak lain, dan anak sendiri tidak diperhatikan, hfphhff…rasanya lega ketika menjelasakan satu kata mengenai skandal.

Alhamdulillah, berapa waktu kemudian, panggilan untuk nomer Hasyim nomor 14 terdengar dari ruang dokter gigi Siti Aminah, dan dengan lincah Hasyim memasuki ruang periksa dokter, tinggallah aku yang kemudian harus mencari persamaan kisah mengenai skandal, meramal dan melamar untuk dijelaskan pada hasyim kecilku agar sesuai dengan alam pikirannya. Dan dalam pencarian penjelasan yang lebih mendidik, maka tanpa sadar aku mengutuk penjualan majalah wanita dewasa yang ada dimana-mana, siaran televisi yang memberitakan berbagai macam persoalan dengan membabi buta dan terbuka, tidak ingat bahwa pemirsa bukan hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak dan para remaja, dimana mereka mencantumkan judul berita yang heboh untuk menarik pemirsa dan semua majalah mencantumkan topik-topik hangat untuk menarik pembeli, namun bila dibaca anak-anak merupakan hal-hal sulit yang susah dimengerti anak-anak tapi membuat mereka harus “dipaksa” mengerti sebelum waktunya. Karena ulah media yang memancing pemirsa dan pembaca, membuat tugas dan fungsi kita sebagai orangtua semakin bertambah, pikirku lelah, bertambah dengan mencari penjelasan dan alasan yang sesuai dengan alam pikiran anak-anak dan remaja seusia mereka, karena informasi itu meluncur dengan cepat dan menghadap dalam alam pikiran mereka, ketika kita sebagai orangtua masih asyiik tertidur lelap.

Baca selengkapnya..

Minggu, 22 Mei 2011

Siapakah yang bisa menyetop penyebaran pornography?

Jendela Hati
Siapakah yang tidak tahu pornography, anak-anak kecil sekalipun sudah kenal akrab sang pelaku sebelum beritanya disiarkan dimana-mana, tentu saja karena media yang ramah pada anak-anak, menyediakan informasi tanpa melihat jam tidur siang anak-anak dan akhirnya membuat anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya.
Suatu hari, aku ke plaza dan sambil jalan-jalan sore (ceritanya ngadem karena memang udara di jakarta sangat terik dan sambil menunggu kawan, aku masuk plaza dan ngadem saja), tak lama aku melewati sebuah toko yang mungil namun subhanalloh, tayangan pornography telihat jelas, dari lekuk-lekuknya sampai warnanya, dan hal itu membuat aku bergidik, “alhamdulillah aku gak bawa anak-anak,” karena sliuet patung wanita berpakaian super minim membuat hatiku terasa nyeri.
Namun rasa alhamdulillah tidak berlangsung lama, karena ada anak kecil berusia tujuh tahun, tertawa mengikik dengan kawannya, mungkin berusia sama, sambil menunjuk-nunjuk gambar wanita pakai bikini di toko pakaian dalam tersebut. Mereka menunjuk-nunjuk aurat wanita yang menonjol, sejenak hatiku menjadi tidak enak, dan kembali lintas bayangku kepada film kartun yang ditonton anakku, dan teringat bagaimana artis Indonesia dengan auratnya yang menonjol disana sini menayangkan iklan kopi. Apa sih hubungannya antara iklan kopi dengan sang wanita, dan itu dilakukan ditengah pemutaran film spongebob, sekali lagi kukatakan miris!
Malam itu aku pulang, dan teringat ketika pergi umrah dan melewati sebuah pertokoan (aku memang senang ngadem -menikmati dinginnya kaca di pertokoan), sebutlah dengan nama zam zam tower, sebuah tower yang pas berada di depan masjidil haram, dan lagi-lagi aku terperangah, kasihan pada para lelaki beriman yang hatinya sengsara dengan keimanan, karena di lantai dasar tersebut, terpampang dengan cueknya toko busana pakaian dalam wanita, dan itu adalah satu-satunya toko yang dengan gagah berani mengeluarkan patung wanita setengah badan (kepalanya tidak ada), yang menunjukkan lekuk-lekuk tubuh wanita dengan sangat menonjol.
Aduuh, mau marah sama siapa, ini bukan negara saya, namun ketika suatu hari aku menemui sebuah internet cafe, yang dipenuhi banyak anak yang mengupload sebuah cd porno baru, aku langsung berteriak dengan gagah berani juga : “Aduuh… kalian pulang saja deh, saya ni pengawas sekolah lho, ayo pulang, itu tontonan yang haram, ayo, pulang sana..” dengan wajah garang saya mengusir serombongan anak-anak SMP dan SMU seraya memarahi yang punya internet “mas nyadar gak sih, kalau nyediakan barang haram kan, uangnya juga haram, ni, saya ganti uangnya anak-anak, sambil menyorongkan Rp 50.000, kemudian sekali lagi dengan gagah berani saya bilang : “ besok saya bawa polisi lho, karena mas terlibat dalam kasus penyebaran film pornography, dan saya berjanji dalam hati, diam-diam saya akan datang lagi besok dan memakai baju safari warna coklat pakaian dinas saya sebagai guru sekolah negeri.
Duh, rasanya pengen deh, jadi pejabat, agar bisa bebas marahin orang-orang yang mendownload pornography dan melarang anak-anak sekolahan yang ramai-ramai ke warnet untuk melihat adegan pornography. Siapa yang mau mengangkat saya ya.. jadi terpikir, ini kali yaa, gunanya perempuan jadi caleg, paling tidak bisa mampu bertindak bebas merdeka, paling kurang menghentikan perburuan maksiat yang marak di warung internet. Baca selengkapnya..

Jumat, 20 Mei 2011

Mengapa Berbohong, Anakku?

“Ini blackberry siapa..?” ibu bertanya kepada Lina yang hanya diam termangu, dan dengan wajah pucat Lina menjawab tergagap, ”hmm... ini punya kawanku, aku dititipkan olehnya, dan aku.. lupa mengembalikannya..” Dengan tangan gemetaran Lina mencoba mengambil kembali blackberry berwarna putih yang harganya cukup mahal untuk anak seusia Lina yang baru duduk di bangku kelas 6 SD.
Sebagai seorang ibu, nalurinya telah melihat bawhwa ada tanda-tanda kebingungan dan kegelisahan pada anaknya ketika ditanya, dan dibalik kegelisahan anaknya itu, ibu bisa mengerti bahwa anaknya telah berdusta dan menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh ibunya.
Namun sebagai ibu, ibu Iin sangat bijaksana. Dia tidak memaksa anaknya untuk mengakuinya, dia diam saja dan perlahan menyerahkan pada anaknya blackberry yang masih nampak baru dan lucu, karena dilapisi chasing atau penutup blackberry berwarna pink yang sangat imut dan cantik.
Dengan lembut ibu memberikan kembali blackberry tersebut pada Lina. Lina pun menerima dengan senang hati. Namun Lina nampak merasa bersalah yang sangat karena sudah membohongi ibunya yang sangat pengertian dan baik hati. Walaupun ibu diam saja, namun Lina tahu bahwa ibu tahu dan mengerti sesuatu, namun ibu tidak marah, malah Lina yang merasa tidak enak.
Lina pun menyimpan blackberrynya dengan baik di dalam laci lemari, kemudian setelah menenangkan dirinya, Lina perlahan keluar dan berdoa semoga ayah tidak tahu dan tidak marah-marah yang akan membuat perasaannya semakin merasa tidak enak. Diam-diam Lina berencana akan mengakui perbuatannya dan mengatakan pada ibu bahwa dia ingin sekali memiliki blackberry, namun karena khawatir ibu tidak kasih, selain harganya yang sangat mahal, juga karena Lina yang sekarang sudah berusia kelas 6, akan mengikuti ujian akhir nasional dan UAS yang akan diadakan 4 bulan lagi. Ayah dan ibu Lina sudah pasti tidak akan mau membelikan blackberry karena khawatir Lina akan bermain terus dengan blackberrynya.
Dikarenakan keinginan Lina yang sangat besar untuk memiliki blackberry, Lina pun mengumpulkan uang dan meminta pada tente serta neneknya ketika lebaran kemarin untuk menambah uang ampawnya (uang saku yang diberikan ketika berlebaran), dan pada saat itu Lina merasakan perasaan yang sangat bersalah sekali. Ibu hanya diam saja, dan bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa, namun karena Lina dibesarkan dalam sebuah keluarga yang selalu terbuka dan tidak pernah berbohong, maka perlakuan ibu yang diam saja dan tidak menuduh serta tidak marah, bahkan dengan tidak menyerang dengan kalimat yang menyakitkan lalu mendiamkan Lina seakan Lina tidak bersalah apa-apa, membuat Lina akhirnya mengaku. Tidak lama kemudian Lina bertekad menyerahkan blackberrynya kepada ibunya yang memang bukan milik kawannya. Setelah sholat magrib, di dalam hatinya, Lina membulatkan tekadnya untuk memberikan blackberrynya pada ibu, dimana ibu menerimanya dengan senang hati.
“Lina mau blackberry ini?” ibu bertanya hati hati. “ibu tahu ini bukan punya Lina..”? Lina bertanya takut-takut tanpa memandang wajah ibunya. “Ibu tidak tahu, apakah ini punya Lina atau bukan, karena setahu ibu, Lina tidak pernah minta dibelikan dan ibu serta ayahpun juga belum pernah membelikan blackberry seperti ini karena belum waktunya,” ibu menjawab dengan tenang. Akhirnya Lina menangis dan dengan suara terisak-isak, Lina mengakui semua kesalahannya dan berjanji untuk memberitahu ibu bila dia menginginkan sesuatu dan minta ijin kepada ibu bila akan membeli sesuatu.
Ternyata teguran yang lembut sungguh sangat efektif bagi seorang anak bila melakukan kesalahan daripada teguran yang penuh dengan kekerasan, menyakitkan dan teriakan serta tuduhan yang malah akan membuat sang anak merasa benci dan membuat benteng dalam dirinya. Sehingga untuk tahap selanjutnya bukannya penyelesaian yang baik yang didapat, namun penyelesaian dengan cara yang tidak menyenangkan, bahkan bisa jadi akan terjadi perang dingin dan ketidaknyamanan yang terjadi diantara ibu dan anak.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS: Ali Imran: 159)
Thursday, 23 December 2010 | Jendela Hati
Diterbitkan kembali oleh : Zulfahmi Baca selengkapnya..

Rabu, 18 Mei 2011

Televisi Sebagai Guru

Televisi Sebagai Guru
Rabu,18 Mei 2011| Jendela Hati
“Ayoo Dina, coba lihat sini..” seorang ibu dengan sangat lembutnya mencoba untuk mengalihkan perhatian anaknya pada televisi dan mengajak sang anak bermain bola di luar rumah. Namun anak perempuan kecil yang berusia 3 tahun, dengan kuncir dirambutnya dan pipi merah meronanya hanya menggeleng dan berusaha menjauhkan dirinya dari sang ibu yang terus berusaha mengajak sang anak dengan setengah memaksa, lalu, “akhh anak ini, nonton televisi melulu, “ gumam sang ibu. “ Noooo, I don’t want, go, go, goo..” teriak sang anak dengan bahasa Inggris yang cukup fasih.
Sejenak sang ibu terdiam, masya Allah, kok anaknya lancar betul berbahasa Inggris. Usut punya usut ternyata film-film berbahasa Inggris yang diserap sang anak dari sejak masih kecil mampu membuat seorang anak ikut dan mengikuti percakapan yang terdengar oleh telinga si anak, walau mungkin tidak terjadi pada semua anak yang menonton film kartun. Namun film kartun yang masih menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, mampu membuat anak mengerti dan meniru percakapan singkat dalam bahasa Inggris terhadap film kartun yang dilihat sang anak, asalkan film kartun tersebut dipilihkan oleh sang ibu yang cukup membuat anak memahami bahasa Inggris dalam kalimat yang cukup sederhana.
Selain merupakan talent juga, bakat bahasa dari sang anak itu sendiri ada secara personal. Namun menonton televisi dalam bahasa Inggris berarti menonton acara anak-anak dalam versi barat yang tentu saja bukan hanya bahasa yang tersaji, namun juga nilai-nilai dan akhlak, pola tingkah laku, pakaian, penampilan dan lain-lain. Semua hal itu memerlukan juga bimbingan orang tua yang tentu saja sang orang tua harus bijak dalam menyikapi dan menjawab pertanyaan anak bila ada acara televisi edisi bahasa Inggris yang tidak dimengerti oleh sang anak, agar mereka tidak salah persepsi terhadap apa yang dilihatnya.

Diterbitkan Oleh: Zulfahmi Baca selengkapnya..

Senin, 16 Mei 2011

UN 2011: AGAM BELUM 100 %

UN 20011 : AGAM BELUM 100%
Walaupun kabupaten Agam untuk tahun ini mengalami peningkatan peringkat tetapi sangat masih ada siswa yang tidak lulus Ujian Nasional (UN). Di kabupaten Agam sebanyak 87 siswa tidak lulus tahun ini.

Hal ini disampaikan sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Agam Ediosman,M.Pd. kepada wartawan, Senin (16/5), usai pengumuman serentak di tiap sekolah di Kabupaten Agam siang tadi.

Dari 87 siswa yang tidak lulus tersebut dirincikan tiga orang bersal dari program IPA, sebanyak 67 orang berasal dari program IPS sedangkan untuk SMK sebanyak 17 orang yang tidak lulus.

Siswa yang tidak lulus di pastikan akan mengulang lagi di Kelas tiga dan mereka akan mengikuti UN pada tahun berikutnya.

"Mereka akan mengikuti UN pada tahun berikutnya apabila mereka telah mengulang duduk di kelas tiga"ulasnya. Baca selengkapnya..

KEKACAUAN DATA UN TERULANG KEMBALI

PENGOLAHAN DATA UN
PANITIA PUSAT JUGA KACAU BALAU

JAKARTA - Pekerjaan Panitia Pusat Ujian Nasional (Unas) 2011 bertambah. Pemicunya, muncul kekacauan saat nilai hasil unas diumumkan di tingkat sekolahan. Panitia pusat menarget kekacauan tersebut beres setelah sepekan dilaporkan oleh pihak sekolah ke pusat melalui Pemerintah Provinsi (Pemprov).

Ketua Panitia Pusat Unas 2011 Muhammad Aman Wirakartakusumah kemarin (16/5) menjelaskan, kekacauan nilai Unas ini bukan yang pertama terjadi. "Tahun lalu juga ada," tandasnya. Tapi, dia berkilah panitia pusat mampu menyelesaikan kekacauan nilai Unas tersebut dalam tempo singkat.

Pria yang juga menjadi ketua di Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) itu mengatakan, banyak sekali kemungkinan yang bisa mengakibatkan kekacauan nilai tersebut. Dia lantas mulai meruntut dari tingkat siswa. Aman menjelaskan, siswa yang mendapatkan nilai ganjil, misalnya 00,00 bisa jadi memang sama sekali tidak bisa menjawab dengan benar.

Dugaan selanjutnya adalah, siswa yang bersangkutan terlalu percaya diri dengan kunci jawaban yang berseliweran via SMS. "Kami sudah mengingatkan sebelum Unas, menggunakan kunci jawaban cukup beresiko," tandasnya. Ketidak telitian siswa saat mengisi nomor ujian, nama, dan menandai jawaban juga disinyalir menjadi salah satu penyebab kekacauan tersebut.

Aman lalu membeber pos lain yang berpotensi menjadi pemicu kekacauan nilai Unas. Diantaranya adalah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang bertugas melakukan pemindaian awal lembar jawaban komputer (LJK). Aman menjelaskan, sistem pemindaian menggunakan teknologi komputer yang juga memiliki beberapa kelemahan. Misalnya, komputer tidak bisa membaca LJK yang tercekat cukup buram.

Panitia pusat juga tidak lepas dengan potensi kelalaian yang berpotensi memicu kekacauan nilai tersebut. Dalam skema yang telah ditentukan, panitia pusat bertugas untuk memverifikasi hasil pemindaian yang dilakukan PTN atau panitia tingkat provinsi. "Kita juga akan mengecek apakah kekacauan itu juga berawal dari panitia pusat," tutur Aman.

Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendiknas Mansyur Ramly menjelaskan, pihaknya belum menerima laporan kekacauan lain selain di Surabaya. Dia mengatakan, jika ada kejanggalan dalam hasil penilaian Unas, sekolah bisa wadul ke Pemprov setempat lalu diteruskan ke panitia pusat. "Intinya siswa tidak boleh dirugikan jika (kekacauan) itu karena kesalahan pantia," tandasya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Mansyur menjelaskan pengalaman tahun lalu fase pemindaian memang rawan. Ia mencontohkan, tahun lalu hasil pemindaian di seluruh Provinsi Banten di kembalikan karena banyak kekeliruan. Seperti, ada siswa yang ikut Unas tetapi tidak ada hasil pemindaiannya. "Tahun ini tidak ada (hasil pemindaian PTN, red) yang sampai dikembalikan," ucapnya.

Lantas bagaimana nasib siswa-siswa yang kedapatan nilainya hilang atau janggal tersebut? Mansyur mengatakan pihaknya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk meng-cross check kejadian itu. Dia menjelaskan akan mengecek langsung ke siswa, PTN, hingga pemerintah setempat.

Jika dipastikan kesalahan ada di panitia dan ternyata nilai siswa tadi melampaui batas minimal kelulusan, maka siswa tadi dinyatakan lulus. Sebaliknya, jika kesalahan di panitia tapi nilai masih di bawah batas minimal kelulusan, siswa tadi tetap tidak lulus. Siswa juga ditetapkan tidak lulus jika kekacauan tadi dipicu kesalahan siswa sendiri.

Mantan rektor ITS itu hanya berpesan bagi siswa yang tidak lulus, dan daerah dengan tingkat kelulusan yang rendah tidak berkecil hati. Nuh mengatakan, hasil Unas ini lantas dilakukan pemetaan kualitas pendidikan dan kemudian diintervensi peningkatannya. (wan)

Baca selengkapnya..